Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-68 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat…” (Yesaya 58:13a)

Menarik bagaimana Yesaya menegaskan betapa pentingnya refleksi diri di dalam bacaan pertama pagi ini. Ketika manusia berseru dan menjerit kepada Allah, Ia akan turun tangan secepatnya dan akan membuat manusia ciptaanNya hidup di dalam sukacita. Namun satu syaratnya; refleksi diri.

Refleksi diri menjadi sesuatu yang sangat penting terutama di dalam masa Prapaskah ini. Seorang sahabat sulit menerima kondisi dimana satu teman di komunitas sangat mudah sekali melontarkan kata2 kasar dan tajam. Selidik punya selidik, kesulitan si sahabat saya menerima teman sekomunitasnya disebabkan karena ia sendiri juga sering kali tanpa ia sadari (atau mungkin bisa dikatakan kurang mampu ) menjaga mulutnya sendiri.

Refleksi Harian Katolik Epiphany halaman ke-68, dalam bacaan Injil, Yesus mengecam para Ahli Taurat dan Farisi yang menganggap si Lewi pemungut cukai adalah orang berdosa. Perbedaan antara Lewi, dengan para Ahli Taurat dan Farisi terletak pada keinginannya untuk bertobat dan membina relasi pribadi dengan Yesus.
Sedangkan para ahli Taurat dan Farisi menganggap diri suci😔. Tidak ada refleksi diri seperti yang di nubuatkan oleh Nabi Yesaya pagi ini.

Apa keputusan anda dan saya setelah membaca bacaan-bacaan pagi ini? Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: