Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-283 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa. (Yunus 3:9)

 

Pernahkah Anda membaca kisah Yunus secara tuntas? Coba jujur apa perasaan anda kalau anda sebagai Yunus? Bukankah ini sangat manusiawi? Jujur, siapa juga yang senang jika ditugaskan untuk menegur orang lain? Apalagi disuruh untuk menegur satu bangsa, bahkan menegur rajanya?? Really? Apa bukan cari mati itu nama nya? Mendingan kabur deh. Tapi mana bisa kita pergi kalau memang Tuhan Allah sudah memanggil anda dan saya seperti Dia memanggil Yunus? Pada akhirnya kita harus menurut juga. Begitu kabar tersebut sampai pada bangsa Niniwe, seisi bangsa tersebut dimulai dari sang raja sendiri mengajak seluruh umatnya (bahkan ternak juga👍) untuk bertobat!

Dan sangat menarik sekali kerendahan hati sang raja saat mengajak bangsanya untuk bertobat (silahkan membaca potongan ayat di atas lagi). Sang raja tidak menjanjikan apa-apa ke bangsanya, namun dia menyemangati bangsanya agar penuh pengharapan 🙏! Ini adalah bukti iman tingkat tinggi. Di tengah semua hingar bingar dan kesibukan, fokus semata-mata hanya kepada Sang Kebenaran, yaitu peringatan Yunus untuk bertobat! Dan hanya berharap agar Allah menujukkan kasihNya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-283, dalam Injil hari ini Maria memilih fokus kepada Yesus, Sang Kebenaran sejati yang ada di hadapanNya. Dalam kasus Yunus, sang raja tersebut memilih fokus terhadap sabda Allah yang dibagikan oleh Yunus. Ini adalah peringatan untuk anda dan saya. Ada waktu kita sibuk berusaha di dalam keseharian kita misalnya pekerjaan, rumah tangga, bahkan di dalam pelayanan. Namun ada waktunya, kita duduk diam dan menerima pengajaran dari Sang Kebenaran itu sendiri. Bisa di dalam doa pribadi, meditasi rohani atau ikut dalam persekutuan doa/ibadat sabda sebagai umat. Karena jika saatnya tiba, kemenangan hanya akan kita alami jika kita menunjukkan pertobatan yang diiringi penuh pengharapan kepada Yesus Kristus seperti si raja dan bangsa Niniwe. Jika fokus kita bukan kepada Yesus, bagaimana anda dan saya sanggup menunjukkan pengharapan yang penuh kepadaNya? Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: