Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-346 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.” (Matius 18:14)

Uri adalah salah seorang anggota di sebuah komunitas untuk anak muda di Sydney. Menurut teman-teman di komunitas, Uri anaknya rada unik, mulai dari gaya bicaranya, sampai gerak-geriknya. Di samping itu, Uri juga tidak terlalu pe-de (percaya diri) untuk melakukan/membantu apapun yang diminta oleh teman-temannya. Karena semua itu, maka teman-temannya terbatas. Bahkan pelayan selnya pun cuma menyapa dia kadang-kadang saja, cuma sebatas basa basi.

Akan sungguh berbeda, kalau Uri terlahir cakep, pandai bicara, atau kaya. Sempat salah satu pewarta di komunitas tsb, tidak sengaja berujar, “Kasihan yah, kalau ada orang yang tampak luarnya tidak attractive, tidak punya skill apa-apa dalam pelayanan. Bagaimana dia bisa improve dalam pelayanan, coba?”

Lama kelamaan, Uri jadi peka juga. Ia dapat merasakan bahwa dirinya tak diterima. Akhirnya dia keluar dan pindah ke komunitas lain, yang untungnya juga Katolik. Ternyata di komunitas yang baru ia diterima dengan baik, kehadirannya disambut dengan tangan terbuka, sehingga perlahan rasa percaya diri dia membaik, dan akhirnya ia bisa melayani bersama teman-temannya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-346, di dalam komunitas apapun, pasti ada orang-orang yang unik dan/atau kurang atraktif. Bagaimana sikap kita terhadap mereka? Coba jujur pada diri sendiri, jangan-jangan kita diam-diam malah berharap agar mereka cepat-cepat menghilang saja???

Di dalam masa Adven ini, sudahkan kita mencintai orang-orang di sekitar kita, tanpa melihat “keunikan” mereka? Semoga lewat tangan kita, merekapun juga dapat merasakan diterima, dicintai, sebagaimana Tuhanpun juga mencintai mereka apa-adanya.

%d bloggers like this: