Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-170 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban.  (1 Raja-Raja 21:27)

 

Dalam refleksi harian Katolik kemarin, kita diajak untuk memilih memaafkan agar damai Allah tinggal dalam hati kita. Refleksi harian Katolik kali ini mengajak kita untuk menerima kasih Allah lewat orang-orang yang men”challenge” kelakuan kita.

Kelanjutan bacaan pertama hari ini, adalah bagaimana reaksi Raja Ahab ketika nabi Elia mendatanginya. Beliau tidak hanya menegur namun memberitahukan kepadanya konsekuensi atas perbuatan semena-menanya.

Raja Ahab bisa saja mengikuti kedegilan & kekejian hatinya dengan tidak menghiraukan perkataan Nabi Elia atau bahkan membunuh Elia saat itu bukan? Dia seorang Raja! ( pada umumnya, orang langsung berpikir, “Siapa kamu berani-beraninya nasehatin saya?” ). Namun dikatakan dalam ayat 39, bahwa respon Ahab yang merendahkan dirinya mendapat belas kasihan Allah & meluputkan dia dari malapetaka.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-170, bagaimanakah sikap kita ketika ada orang ( yang bisa aja orang ini adalah pasangan kita, orang tua kita, anak kita atau rekan kerja kita ) yang “menegur atau mengingatkan” kita akan kesalahan atau kelalaian kita yang sudah merugikan orang lain? Bersyukurkah kita atas peringatan-peringatanNya yang membebaskan kita dari kuasa dosa?

Terima kasih Tuhan atas Nabi Elia – Nabi Elia dalam hidup kami 🙏

%d bloggers like this: