Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-234 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Maka tahulah Gideon, bahwa itulah Malaikat TUHAN, lalu katanya: “Celakalah aku, Tuhanku ALLAH! sebab memang telah kulihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.” (Hakim-hakim 6:22)

 

Membaca bacaan pertama di refleksi harian Katolik pagi ini, anda dan saya dibawa menyelami pengalaman iman Gideon, salah satu hakim yang menonjol pada masa sebelum bangsa Israel memiliki raja. Pengalaman iman yang sepertinya kurang ajar 😰 dimana Gideon meminta tanda untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia berhadapan dengan Malaikat Tuhan dan Allah sendiri yang bersabda. Refleksi ini menarik karena begitu Gideon menyadari ke ‘tidak peka’ annya akan siapa yang ada dihadapannya, ia meminta ampun dan menyadari betapa bodoh nya dirinya. Namun Allah sungguh mengasihinya.

Masa itu belum terlalu banyak penjelasan-penjelasan akan kepekaan akan kehadiran Allah di dalam kehidupan seseorang. Tidak mudah memang untuk menyakini kalau-kalau dalam suatu penampakan sungguh Allah sendiri yang hadir. Lihat saja Musa pada awal dia mau memulai pekerjaan yang Allah ingin ia lakukan. Tidakkah Musa juga diperlihatkan beberapa mukijzat untuk ia percaya bahwa Allah sendiri yang hadir? (Silahkan lihat di Kitab Keluaran 3:1 – 4:14). Itu sebabnya Gereja Katolik sungguh meninggikan Ibu Maria karena kepekaannya yang luar biasa saat kehadiran Malaikat Gabriel ketika ia menerima kabar gembira. Maria langsung tahu siapa di hadapannya. Bahkan tanpa ragu Maria mampu berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Suatu sore seorang bapak sedang mengikuti misa. Pada waktu itu mama mertuanya masih berjuang dengan sakitnya dan sedang berada di ICU, dan istrinya menemani sang mama di Jakarta. Pada saat konsekrasi, ia mempersembahkan doa untuk sang mama mertuanya agar kuat; dan jika sesuai rencana Tuhan, ia berharap kesembuhan fisik terjadi. Namun sepertinya ada satu gerakan yang menyampaikan ke dia bahwa sang mama mertua akan ke rumah Bapa. Bapak itu tidak yakin, dan mohon jika Tuhan berkenan dia boleh diijinkan untuk mendapat tanda bagaimana kondisi sang mama. Puji Tuhan si bapak ‘diijinkan melihat’ mama mertua bersama Yesus di altar gerejanya. Mama mertua tersenyum dan berkata “thanks ya doanya, aku sudah disini”. Di latar belakang tampak (dan di imani itu Yesus) yang juga tersenyum kepadanya. Si bapak ini menangis dan bersukacita. Menangis karena mama akan berangkat, bersukacita karena ia sudah bertemu dengan Kristus. Selesai misa bapak ini membuka HP dan ternyata ada Whatsapp message dari istrinya yang menyampaikan bahwa mami beberapa saat lalu koma dan jantungnya sempat berhenti. Kurang lebih saat itu terjadi bersamaan dengan penglihatan yang dialaminya. Beberapa hari kemudian sang mama mertua akhirnya meninggal, berangkat menuju rumah Bapa.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-234, kepekaan bukan soal hebat atau kudusnya seseorang, namun semata-mata karena Karunia Allah! Karunia discernment atau membedakan Roh adalah salah satu bentuk karunia Allah itu, yang kita semua kenal sebagai Karunia Karisma Roh Kudus.

Tuhan memberkati!

%d bloggers like this: