Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-114 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?” (Yohanes 10:24)

 

“Duh, coba ya kalau aku bisa dengar suara Tuhan verbally” keluh salah seorang teman saya, sebut saja namanya Wini. Karena dia lagi bingung mau mengambil keputusan. Kalau bisa dengar suara Tuhan verbally kan gampang, sebab tinggal ngikutin apa yang Tuhan bilang.

Seperti Wini, banyak orang juga sering mengalami kebimbangan atau ragu-ragu, apalagi dalam mengambil keputusan penting seperti saat mencari pasangan hidup, karir, atau keputusan yang menyangkut hidup seseorang dalam keluarga.

Why? Sederhana saja, ini terjadi karena kita masih terlalu banyak berpikir, mengandalkan pikiran kita sendiri, dan kurang percaya sepenuhnya pada waktu Tuhan, sehingga ujung-ujungnya bisa jadi stress sendiri.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-114 ini, iman pada Yesus lebih banyak kaitannya pada hati, dari pada pikiran atau akal budi. Beriman berarti berserah sepenuhnya, dan percaya pada sesuatu yang belum kelihatan/terjadi (Ibrani 11:1).

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30) kata Yesus di akhir perikop. Menjadi satu dengan Bapa, berarti kita harus rajin berdoa, baca Kitab Suci dan pergi ke gereja. Sejauh mana kita telah menjadi satu dengan Dia? Asalkan kita tetap bersatu dengan Dia di manapun dan kapanpun, saya yakin kita tak akan lagi ragu/bimbang mengadapi dalam ketidakpastian. Amin.

%d bloggers like this: