MENJAGA HATI SAMPAI KEDATANGANNYA

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-115 dari 365 halaman dalam tahun.

 

1Ptr 5:8
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
(1 Petrus 5: 5b-14 dan Mrk 16:15-20)

Untuk memahami penggalan ayat diatas; sesungguh nya akan lebih mudah di mengerti jika kita mau membiasakan membaca keseluruhan perikop atau bacaan yg sudah di tetapkan pada hari ini sebagai satu kesatuan. Perikop bacaan pertama hari ini di mulai dengan statement bahwa Allah menentang mereka yang sombong! Dan di lanjutkan dengan imbauan agar anda dan saya saling merendahkan hati agar rahmat Allah kuat dan menjaga kita semua. Sombong adalah dosa favorit si iblis. Dan melalui kesombongan (baca: tidak ada kerendahan hati) adalah pintu atau celah yang paling mudah buat si iblis menerkam kita semua – digambarkan bagai singa yg mengaum2 mengelilingi dan menanti kesempatan. (Ingat bagaimana manusia pertama jatuh dalam dosa? Karena sombong mau menjadi seperti Allah)

Saya ingat seorang pewarta pernah bersharing bagaimana suatu ketika ia mengalami argumen besar dengan istri nya. Padhal saat itu usia pernikahan mereka belum terlalu lama. Saking cukup keras nya, sampai-sampai mereka sempat tidak bicara satu sama lain walaupun tinggal se rumah. Satu ketika, sang pewarta ini mengajar kursus evangelisasi di satu paroki; dan saat break between sessions, beberapa peserta ibu-ibu muda saling sharing dan ngobrol dg si pewarta ini. Salah satu kalimat yang muncul dalam obrolan tersebut adalah “wah istri bapak pasti bersyukur ya punya suami yg takut akan Tuhan! Se andai nya saja suami saya seperti bapak” Kalimat sederhana yang seharus nya berupa penyemangatan, berubah menjadi semacam siraman air si iblis menampar hati si pewarta. Langsung sang pewarta ini berpikir “bener juga ya! Dasar istri ku tidak tahu terima kasih!😱”

Pulang ke rumah yang katanya melakukan ‘pelayanan evangelisasi’ bukan nya membawa damai dan kabar gembira; tidak ada kerendahan hati malah justru kesombongan , dan marah2, Sang istri yg tadi nya malah tidak komentar apa-apa jadi bingung. Suami nya yang seharusnya ‘membagikan kabar gembira’ malah pulang membawa ‘keributan dan angin badai besar’.

Halaman 115; Pertanyaan nya, apakah anda dan saya selalu siap sedia menjaga segala kemungkinan dari serangan si iblis dengan cara selalu rendah hati diantara sesama? Atau justru anda dan saya hanya mengharapkan orang lain rendah hati dan harus mengerti kita, tanpa sebaliknya? Jadi sesungguh nya, siapa sebenarnya yang anda dan saya layani? Puji Tuhan sang istri tersebut, saat itu, memilih tenang dan tidak ikut terbakar suasana nya – sang pewarta akhirnya menyadari kebodohan yg ia lakukan. Sejak itu ia sungguh mengerti arti perikop diatas khusus nya ayat 8 tersebut. *Si iblis terus berputar bagai singa mengaum mencari celah!*

Apakah anda dan saya mau membiarkan iblis menang? NO WAY! Roh yang ada dalam diri kita JAUH lebih BESAR dari segala roh yang ada di bumi ini! Lawan dengan IMAN! Tuhan memberkati

%d bloggers like this: