Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-85 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (Matius 18:21-22)

 

Seorang teman, sebut saja namanya Gerry, semenjak kecil, ayahnya selalu mengajar Gerry bahwa mereka adalah keluarga yang terhormat. Ia diajar untuk selalu menomorsatukan keluarga, untuk saling membantu satu sama lain.

Setelah Gerry beranjak dewasa, ia mulai sadar, loh kok ternyata ayahnya sendiri tidak melakukan sebagian besar yang ia ajarkan. Terutama saat Gerry kesulitan, ayahnya menolak untuk menolong. Karena hal tsb, diam-diam membuat Gerry marah luar biasa terhadap keluarganya. Sehingga walau dulu ia dekat dengan keluarganya, sekarang, ia tidak begitu terbuka lagi.

Soal mengampuni bukan perkara gampang. Petrus bertanya kepada Tuhan, berapa kali kita harus mengampuni saudara kita? Tapi kita sering lupa, kita juga harus mengampuni keluarga, bahkan juga orang tua kita sendiri. Sebab mereka juga bukan orang-tua yang sempurna. Teman bisa datang dan pergi, namun kita cuma memiliki satu orang tua kandung, dan status saudara tak akan pernah bisa dihapus selamanya.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-85 ini, Tuhan Yesus mengajurkan kita untuk mengampuni sebanyak 70×7 kali. Tetapi apakah berarti setelah mengampuni 490x berarti tugas kita sudah selesai, dan tak perlu lagi mengampuni siapapun? Sadar atau tidak, semakin bertambah umur, orang umumnya makin banyak bikin kesalahan. Gak bakal ada orang yang sanggup apabila ia disuruh membayar setiap kesalahan tsb.

Menjadi pengikut Kristus berarti kita mengikuti semua ajaran Tuhan Yesus. Sama seperti Bapa di Surga mengampuni dosa orang yang dengan rendah hati mengakui kesalahannya. Kita pun juga harus mengampuni orang-orang yang telah bersalah pada kita.

%d bloggers like this: