Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-303 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Dan Ia berkata lagi: “Dengan apakah Aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah? Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya.” (Lukas 13:20-21)

 

Bacaan hari ini memuat tiga perumpamaan dan contoh berbeda yang menggambarkan Kerajaan Allah. Menurut Yesus, Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi atau ragi. Menurut Paulus hubungan Allah dengan manusia itu seperti hubungan suami istri. Saya sampai bertanya dalam hati, kenapa harus memakai contoh bermacam-macam? Bukankah malah bisa membuat orang bingung?

Bisa saja orang berpikir kalau kerajaan Allah itu ‘murahan’ karena ragi dan biji sesawi itu murah. Bisa saja ada orang yang keberatan dibilang ‘menikah’ dengan Allah, masak menikah dengan Tuhan yang harusnya kita sembah? Perumpamaan dan contoh punya keterbatasannya sendiri dan tidak bisa menggambarkan sesuatu secara sempurna.

Setelah merenung, saya teringat cerita dua orang buta yang mencoba menjelaskan seperti apa binatang gajah itu. Yang satu memegang belalainya dan menggambarkan binatang in sebagai binatang yang agak basah, kurus dan panjang menggeliat2 seperti ular. Yang satu memegang kaki belakangnya dan menggambarkan gajah sebagai binatang yang kekar dan besar seperti pohon. Mungkin, seperti contoh orang buta dan gajah ini, sulit bagi otak manusia kita untuk melihat dan mengerti seperti apa Kerajaan Allah itu. Sebegitu besar, hebat, dalam dan dahsyatnya sehingga kita hanya bisa mengerti sebagian kecil daripadanya selama masih hidup di dunia ini.

Semoga di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-303 ini menyadarkan kita betapa tidak terselaminya Tuhan kita dan betapa kecil dan terbatasnya kepandaian kita. Karena itulah sudah selayaknya kita terus merendahkan diri dan berusaha terus belajar tentang kebenaran. Janganlah merasa sudah tahu semuanya tentang kitab suci atau ajaran Katolik, tapi mau untuk terus lapar akan pengetahuan, kebenaran dan hubungan yang lebih mendalam lagi dengan Tuhan Allah kita.

%d bloggers like this: