Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-248 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Alangkah hebatnya perkataan ini!” (Lukas 4:36)

 

Sadar atau tidak, kualitas pertumbuhan dan perkembangan pribadi seseorang itu amat dipengaruhi oleh kata-kata yang ia dengar. Saya pernah mendengar, perkataan orang tua akan tetap melekat di alam bawah sadar anak sampai ketika ia dewasa nanti. Dan ini akan mempengaruhi cara ia berpikir nanti setelah ia dewasa.

Salah satu contoh kisah nyata, saya punya seorang sepupu wanita. 15 tahun yang lalu, sepupu saya itu masih berumur 3-4 tahun. Namun ia sering kali dimarahi oleh ibu angkatnya dengan kata-kata yang kasar. Tidak jarang kami melihat ada bekas memar di tubuh sepupu saya itu (berarti ia dipukuli). Sehingga setiap kali berkunjung ke rumahnya, sepupu saya itu (walau masih sangat kecil) sering cuma duduk murung dan ketakutan. Tiap kali diminta melakukan sesuatu maka ia ketakutan karena takut salah, dan takut dimarahi.

Dalam contoh lainnya, saya pernah mendengar kesaksian dari seorang anak muda yang sangat percaya diri, sebut saja namanya Alex. Alex memberi credit pada orang tua dan pembimbing rohani dia selama di persekutuan. Karena orang tua, dan pembimbing rohaninya selalu sabar, memberi kata-kata yang membangun, dan kesempatan-kesempatan baru (setiap kali Alex berbuat salah).

Perkataan seseorang, walau diucapkan dari mulut yang sama, bisa menghasilkan dua hal yang luar biasa perbedaannya. Rasanya ini tidak cuma berlaku pada pertumbuhan seseorang, namun juga berlaku didalam komunitas. Salah ucap (apalagi disertai nada yang ketinggian) bisa membuat orang jadi berantem dan membuat orang bersangkutan keluar dari komunitas. Namun sebagaimana yang diberi contoh oleh Tuhan Yesus pada kita, kata-kata yang berwibawa dan berkuasa sanggup mengusir roh jahat. Kata-kata bijaksana pasti sanggup menyatukan.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-248, sejauh mana kata-kata yang keluar dari mulut kita penuh wibawa dan kuasa untuk mengusir kejahatan dan roh-roh jahat? Atau malah sebaliknya justru membawa perpecahan? Sebaliknya apabila kita menerima teguran, hendaknya juga jangan terburu-buru marah atau menyangkal, namun dengan rendah hati mau mencoba berefleksi agar kita bisa bertumbuh.

%d bloggers like this: