NILAI SEBUAH KEPERCAYAAN

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-129 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yoh 10:24

 

Sudahkah kita benar-benar percaya?

Suatu kali saya pernah dibawa ke sebuah restaurant yum cha di Sydney. Setiap kali ikut yum cha, istri saya pasti memesan satu makanan favorit dia. Tapi saya selalu serem untuk mencobanya. Coba tebak apa itu? Apalagi kalau bukan: chicken feet!!! Setiap kali pergi, ia selalu mencoba meyakinkan saya betapa enaknya masakan kaki ayam itu, saya tetap tak pernah mau mendengar/percaya penjelasan istri saya, apalagi mau mencobanya. Sebab setiap kali melihat bentuk kaki2 tersebut diatas piring, dan lalu terbayang-bayang kaki ayam yang sebenarnya, nafsu makan saya langsung hilang. Kalau tidak pernah mau mencoba, bagaimana tahu bakal suka atau engga? Betul ngga? Kenyataannya 9 tahun saya berusaha dijelaskan betapa enaknya kaki ayam, tapi tetap saja tidak percaya.

Orang yang tak percaya, mau dijelaskan bagaimanapun pasti tak akan percaya. Kira-kira seperti itulah yang saya alami. Dan rasanya orang-orang seperti itu jugalah yang Tuhan Yesus hadapi. Mereka berkata “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan?”, walaupun Tuhan Yesus sudah beberapa kali mengatakan kepada mereka yang sebenarnya secara terang-terangan didepan umum, saat Ia mengajar di tempat terbuka, maupun di bait Allah.

Orang-orang yang berpikiran seperti orang Yahudi ini kiranya masih banyak sampai hari ini, yaitu orang-orang yang bermental duniawi, materialistis, yang sombong, dan bahkan orang-orang yang pintar intelektual. Mereka akan lebih percaya dengan bukti-bukti nyata, hasil kalkulasi dan dengan apa yang dapat dilihat dengan mata.

 

Beriman, rendah hati dan penyerahan diri

Di halaman ke-129, belajar dari pengalaman pribadi yang saya ceritakan di awal tadi, kita dapat bersama-sama belajar beberapa hal hari ini:

  1. Menjadi orang beriman, berarti percaya bahwa sesuatu akan terjadi walaupun belum kita lihat (Ibr 11:1). Tidak terpaku pada apa yang terlihat. Apabila kita hanya percaya pada sesuatu sudah pasti akan terjadi, maka kita tak membutuhkan iman lagi, dan kita tak akan berbeda dari para non-believer lainnya.
  2. Agar bisa beriman, kita butuh kerendahan hati, mau mendengar orang lain. Walaupun kita tak harus selalu setuju dengan pendapat orang lain, tak ada salahnya untuk mendengar nasihat/kesaksian iman dari orang lain. Orang yang sombong cenderung tak mau mendengar pendapat orang lain.
  3. Beriman berarti berserah. Tak lagi dihantui oleh bayang-bayang kejadian yang belum tentu terjadi. Apabila setelah berdoa kita masih kahwatir, maka berarti kita belum 100% percaya. Rasa kahwatir asalkan masih didalam level tertentu, itu baik. Kebalikan dari itu berarti ignorance.

Apabila anda seperti saya, maka saya sendiri, jujur saja, masih sering suka merasa khawatir. Semoga mulai halaman ke-129 ini, apabila kita masih suka khawatir, berarti kita masih butuh berdoa lebih banyak lagi, agar jangan sampai kita terus bimbang seperti orang-orang Yahudi. Amin.

%d bloggers like this: