Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-288 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. (Galatia 5:1)

 

Unhappy, unloved, and out of control (gak bahagia, tak merasa dicintai dan tak bisa terkontrol) begitu judul artikel di majalah Time beberapa tahun yang lalu, tentang anak-anak muda zaman sekarang di sebuah negara yang dulunya adalah negara penganut agama Kristen yg kental. Sebegitu banyaknya perubahan yang terjadi di negara tersebut dari yang awalnya sangat religious, sekarang masa depan anak-anak muda mereka sangat memprihatinkan.

Akar dari masalah tersebut menurut Time adalah kurangnya perhatian dari orang tua dan akhirnya membanjiri anak-anaknya dengan berbagai-bagai hadiah dan gadget. Padahal yang sebenarnya mereka butuhkan adalah waktu dan perhatian orang tua mereka.

Kita mungkin sudah bebas dari penjajahan negara lain. Tapi sadar gak sadar, gadget, adiksi, uang, karier, hutang, rumah dan lain lain adalah bentuk-bentuk dari modern slavery. Orang jadi gak bahagia kalau gak pake iPhone terbaru, gak bahagia kalau gak punya rumah “diatas tanah”, akhirnya mereka kerja mati-matian banting tulang. Apabila orang tuanya demikian, di bawah alam sadar akan ter-transfer ke anak-anak.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-288 ini sebenarnya ingin menyampaikan apa sih? Bacaan Injil dan bacaan pertama ingin menyampaikan bahwa Kristus Yesus adalah tanda yang memerdekakan. Selama kita yakin dan percaya pada Tuhan, kita akan merdeka dari berbagai bentuk slavery (perhambaan).

St Francis demi ikut Yesus memilih melepas seluruh harta warisannya, sehingga ia bebas sebebasnya. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita juga terikat dengan berbagai-bagai keinginan. Sebaliknya semoga kita juga bisa berkata, only Jesus is enough.

%d bloggers like this: