PEDANG PENGHANCUR KELUARGA

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-198 dari 365 halaman dalam tahun.

 

Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya (Mat 10:35)

 

Sekilas saat membaca ayat di atas (juga ayat sebelumnya di ayat 33), berkesan Yesus tidak membawa perdamaian, melainkan perpecahan. Ya, memang demikian jika kita mencabut ayat dan kemudian dipakai untuk mengajak orang berdebat atau mencoba memutar balikan Firman Tuhan. Apalagi jika Firman tersebut digunakan untuk kepentingan-kepentingan pribadi. Coba simak kisah di bawah ini.

St Leo VI (yang kita rayakan hari ini) adalah Paus Roma yang hidup di abad IX. Hidupnya penuh pengorbanan dan perjuangan kepada orang-orang miskin. Ia membangun tembok-tembok kota Roma yang hancur akibat serangan bangsa barbar Saracen. Sayangnya, sepak terjang Paus Leo VI ini malah ditentang oleh banyak uskup yang tidak setuju dengan kaul kemiskinan dan pelindung orang2 miskin. Dan ini sesungguhnya menyedihkan hati beliau. Namun, tak peduli betapa banyak ia dicemooh, Paus Leo tetap bersikap adil, sabar dan rendah hati. Ia tak pernah membiarkan masalah dan kesulitan mengusai dirinya. Leo tetap setia mempersembahkan segenap waktu dan kekuatannya untuk Yesus dan Gereja-Nya, sehingga umat mencintai Paus Leo. Banyak mukjizat terjadi karena kehidupan doanya.

Pertentangan terjadi namun siapa berdiri tegak berdasarkan Firman yang sesungguh nya akan menikmati mahkota kehidupan sejati.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-198, bukankah mengikuti Tuhan Yesus dengan benar sering berujung dengan pertengkaran?

Contoh di atas juga mungkin anda dan saya alami walau kita ada di dalam komunitas atau agama yang sama. Apalagi seperti yg dialami satu kenalan saya sebut saja namanya Ronni. Dia memilih dibaptis menjadi Katolik, namun keluarganya menentang dia bahkan sampai memusuhinya. Ia tidak boleh lagi memanggil orang tuanya Papa Mama. Namun Ronni terus maju dan bertahan di dalam imannya. Dia tetap berusaha menyempatkan diri mengunjungi keluarga dan orang tuanya. Sampai satu ketika ia akhirnya benar2 diusir dari keluarganya. Saat ia menikah, tidak ada satupun yang hadir dari anggota keluarganya. Satu-satunya yang masih menghubunginya adalah adik bungsunya. Tahun demi tahun berlalu, bahkan sampai kira-kira 2-3 bulan lalu. Ronni mensyukuri apa yang ia alami, bahkan di dalam sharingnya ia berkata “Ya puji Tuhan, ko, saya boleh ngerasain penderitaan Yesus”.

Buat saya, inilah evangelisasi paling efektif! Kalah deh pengalaman bertahun-tahun mengajar dan membawakan renungan. Ia sudah memperlihatkan bagaimana Tuhan yang meraja dan hidup di dalam dirinya. Tuhan memberkati

%d bloggers like this: