Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-169 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“…tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:39)

 

Gak salah Tuhan? Kita sudah dijahatin, sudah disakiti, malah harus memaafkan? Gak bisa balas dendam? Mana keadilan?

Lihat kisah di bacaan pertama. Bagaimana sewenang-wenangnya Penguasa (Ahab) hanya karena semata-mata ingin menguasai kebun anggur Nabot menggunakan cara2 yang tidak halal sampai akhirnya Nabot harus mati. Well, bukan sang raja sih yang bertindak melainkan sang isterinya namun si raja tidak mampu melawan kedagingannya dan Nabot harus menjadi korban. Dan kita harus menerima?

Saya kira, sebagai manusia tentu rasa ingin balas dendam akan dominan. Namun inilah menariknya Tuhan kita, Ia justru menganjurkan hal sebaliknya, memaafkan! Karena dengan memaafkan, si jahat makin emosi, rasa kesal makin memuncak. Saat keduniawian dan kedagingan makin memuncak justru semakin tampak bahwa si iblis adalah bapa pendusta segalanya!

Bagaimana dengan mereka yang memaafkan? Rasa damai juga semakin memuncak. Justru saat kedamaian, kedekatan dengan Allah semakin terasa, karena Allah adalah Kasih.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-169, Anda mau pilih ya mana? Melampiaskan emosi dan sepertinya menang sesaat? Atau memilih memaafkan, menelan kekesalan namun justru menunjukkan bahwa Yesus hidup di dalam dirimu? Sehingga saatnya kelak di pengadilan terakhir, Ia mendapatkan anda dan saya layak menerima mahkota Surgawi. Tuhan memberkati.

%d bloggers like this: