Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-56 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Tuhanlah yang menciptakan kebijaksanaan, yang melihat serta membilangnya, lalu mencurahkannya atas segala buatan-Nya. (Sirakh 1:9)

 

Belum lama ini saya bersyukur boleh mendengar satu sharing dari seorang ibu yang berjuang terus berusaha mengampuni keluarganya (kakak adik kandung) yang meninggalkannya, bahkan menghalanginya untuk mau berekonsiliasi dan berkumpul kembali. Dari sudut ibu ini, dia sudah minta maaf atas kesalahannya di masa lalu dan terus berusaha mengampuni anggota keluarganya yang sudah berulang kali menyakitinya. Namun sepertinya permasalahan ini tak kunjung padam. Berat beban yang ia alami, namun ia juga bingung harus berbuat apa lagi selain terus berusaha mengampuni.

Memulai minggu ini, anda dan saya diingatkan kembali akan namanya ‘kebijaksanaan’ yang mutlak datangnya dari Allah. Allahlah sumber kebijaksanaan yang tertinggi, tidak ada satu mahluk hidup yang mampu mengimbanginya.

Kembali ke sharing si ibu di atas, Tuhan tegas soal anda dan saya harus mengampuni (ingat bacaan2 hari Minggu kemarin). Namun Ia tidak buta dan Ia adalah Sang Sumber Kebijaksaan itu sendiri. Saya percaya perjuangan ibu ini sangat membuat hatiNya bersuka cita.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-56, mengkombinasikan dengan bacaan Injil hari ini mengenai mukjizat Tuhan Yesus dalam menyembuhkan si sakit (dewasa ini mirip dengan penyakit epilepsi), anda dan saya di hadapkan pada teguran Yesus mengenai kualitas doa yang anda dan saya lakukan. Apakah sudah benar di hadapanNya? Atau doa kita hanya lip service tanpa dasar iman? Atau malah doa-doa kita dibuat-buat supaya kedengaran dan kelihatan keren di depan umat yang hadir?

Mari saudaraku, belajar bijaksana dari Sang Sumber, dengan peka akan suaraNya, sehingga anda dan saya mampu menjadi kepanjangan tanganNya tanpa mencuri kemuliaanNya. Tuhan memberkati, selamat hari Senin.

%d bloggers like this: