Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-28 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” (Markus 3:29)

 

Terkadang Yesus menyampaikan perkataan keras kepada orang sekitarnya. Pesan di bacaan Injil hari ini mungkin salah satu yang paling keras dan tegas. Saya membayangkan seperti orang tua yang mewanti-wanti anaknya supaya ia tidak celaka.

Saya jadi teringat akan film sci-fi dimana tokoh utamanya mati berkorban nyawa untuk temannya. Tapi beda dengan pengorbanan Yesus, orang ini berkata ‘Tidak ada yang bisa memaafkan atau menyelamatkan aku lagi.’ Orang ini sungguh putus asa karena merasa kesalahannya terlalu besar untuk diampuni.

Ternyata keputusasaan (despair) adalah dosa menghujat Roh Kudus juga. Kenapa? Karena orang yang putus asa menganggap dosanya lebih besar dari Kasih Allah dan meragukan janji Allah yang maha pengampun. Orang yang seperti ini biasanya menjauh dari Allah dan melakukan dosa-dosa semaunya karena ia percaya ia akan binasa juga pada akhirnya.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-28 mengingatkan kita akan wejangan kasih dari Tuhan supaya kita tidak binasa dan boleh beroleh persatuan kekal denganNya. Perasaan bersalah saat kita berdosa itu wajar, tapi keputusasaan berkepanjangan bisa menjadi dosa. Pengampunan Allah kita lebih besar dari dosa apapun yang kita lakukan dan janjinya tetap selama-lamanya!

 

 

%d bloggers like this: