DOUBTING THOMAS

Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-184 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Yoh 20:29

 

Coba bayangkan jika ada suatu peristiwa hidup yang amat anda tidak banggakan, tiba-tiba diketahui dan disebarluaskan oleh seseorang lewat sosial media? Bagaimana rasanya? St Thomas yang kita rayakan hari ini, bagi semua orang yang pernah membaca Kitab Suci, ia dikenal sebagai seorang yang ragu. Salah satu panggilan populernya adalah: doubting Thomas. Ini tak lain, karena kisah keraguannya telah tercatat (tak hanya di sosmed) tetapi di Kitab Suci dan dibaca oleh seluruh masyarakat Kristen dimuka bumi.

Apabila kita cuma membaca Kitab Suci, maka kisah St Thomas akan berhenti disitu, dan ia selamanya akan dikenal sebagai doubting Thomas. Menurut catatan sejarah, setelah para rasul berpisah setelah peristiwa Pantekosta. St Thomas dikirim memberitakan Injil, di berbagai tempat dari Laut Kaspia, Parthian, Medes, sampai Teluk Persia dan akhirnya mencapai India.

Di tahun 52, Thomas berlabuh di Cranganore. Keberhasilan St Thomas sangat epik, ribuan orang dipertobatkan, dan ratusan orang disembuhkan secara ajaib. Setelah 17 tahun menenetap disana, St Thomas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan misinya, dan menetap di Mylapore. St Thomas sekali lagi menentang supremasi salah satu dewa disana, sehingga ia amat sangat dibenci oleh pemuka2 agama tersebut. Suatu kali di tahun 72, ia diserang saat sedang berdoa di bukit Little Mount. Salah satu penyerang berhasil menusuk jantung St Thomas sehingga ia meninggal.

42 tahun sebelumnya, St Thomas pernah berkata “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia.” (Yoh 11:16). Dengan bepergian ke India, St Thomas telah bepergian jauh demi Gurunya, dan dengan meninggal dengan tombak di jantung, ia telah meninggal seperti Dia. Thomas, once the doubter, now has became the dauntless (berani).

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-184, kita diingatkan sekali lagi pentingnya mengalami kasih Tuhan. St Thomas pertama kali melihat, ia langsung mengenal dan mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Memang sulit untuk dapat percaya sebelum melihat/meraba. Namun lebih sulit lagi untuk mengakui Yesus tanpa benar2 mengalami kasih Tuhan.

Buat kita yang telah mengalami kasih Tuhan, jangan lagi kita mengeluh saat harus berkorban demi Tuhan Yesus. Contohnya, saat harus memilih antara kerja (untuk dapat uang) atau ikut Misa, saat harus berpuasa atau mengaku dosa, dan masih banyak lagi. Sudah terlalu besar pengorbanan Dia. Kasih Tuhan yang telah menguatkan Thomas, semoga juga akan menguatkan kita, untuk melangkah demi sang Guru.

%d bloggers like this: