Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-246 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Lukas 4:24)

 

Beras maunya yang dari Thailand, susu bubuk maunya yang buatan Australia, salmon sukanya yang buatan New Zealand. Katanya kalau produknya berasal dari negara tersebut, maka tastenya jauh lebih ok dan terpercaya dibandingkan buatan dalam negeri. Ini yang sering muncul di iklan-iklan, sehingga orang-orang pun termakan oleh iklan tsb, dan produk dalam negeri menjadi tak laku. Padahal mungkin rasanya sama saja.

Kejadian yang sama juga sering terjadi di dalam komunitas-komunitas lokal. Apabila ada acara rohani, sering kali membuat saya menjadi bertanya-tanya, kenapa sih harus selalu mengundang pembicara dari luar negeri. Ongkosnya jadi lebih mahal 4x, tim fundraising juga lebih stress, plus pengajar lokal jadi kehilangan kesempatan. Padahal Injil yang dibahas toh sama saja. Saat ditanya katanya kalau pengajarnya dari luar negeri maka isinya lebih tokcer dan umat yang datang pun lebih banyak.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-246, inilah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus juga. “Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya” (Lukas 4:24). Dan tak ada produk yang dihargai di negara asal buatannya. Apakah kita juga termasuk orang-orang yang demikian?

Orang yang telah dewasa secara rohani, seharusnya tak lagi memperhatikan siapa yang menyampaikan pengajaran tersebut. Jangan sampai bungkus luar si pembicara (umur, gender, cakep/jelek, dll) saja yang dilihat. Apabila kita masih tergantung dengan bungkusan luar seseorang bisa jadi berarti kita masih tinggi hati. Yang rugi siapa? Ya kita sendiri, karena akan susah untuk menerima pesan-pesan Injil Tuhan Yesus. Sebaliknya orang yang rendah hati, tidak sombong, maka hidup akan lebih gampang.

Mulai hari ini, mari kita bersama-sama minta kepada Tuhan Yesus supaya kita pun bisa menjadi murid2Nya yang rendah hati. Semakin hari semakin rendah hati, semakin dilembutkan, supaya makin gampang menerima ajaran Tuhan Yesus. Amin

%d bloggers like this: