Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-247 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“Pada hari ini genaplah ayat-ayat Kitab Suci itu pada saat kalian mendengarnya.” Semua orang membenarkan Yesus. (Lukas 4:21-22)

 

Silahkan baca selengkapnya bacaan dari Lukas 4:16-30.

Saat itu genaplah nubuat Yesaya tentang utusan Allah yang akan membebaskan orang-orang yang tertindas, orang-orang tawanan bahkan mencelikkan orang-orang buta. Dia yang diutus dan yang diurapi Allah sendiri untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dia yang dipenuhi Roh Allah sendiri, seorang Mesias, penyelamat bangsa Yahudi.

Mulanya orang Yahudi terutama orang-orang Nazareth mengakui apa yang dikatakan Yesus. Bahwa kemudian mereka menolak, memusuhi, bahkan mau menyalibkan Yesus, itu semua karena ternyata Yesus bukan yang seperti mereka bayangkan. Orang Yahudi menganggap Mesias yang akan datang adalah seorang yang bisa mengangkat bangsa mereka menjadi bangsa hebat, nomor satu, mensejahterakan mereka, dan memberi kemakmuran.

Kadang kemanusiaan kita seperti orang Farisi dan ahli Taurat. Kita mau Tuhan mengikuti kehendak kita, kita berdoa memohon agar Tuhan mengabulkan apa yang kita inginkan. Seringkali kita lupa Tuhan yang maha tahu sangat mengerti apa yang terbaik buat kita. Kalau ternyata Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita (karena tidak sesuai dengan rencana Tuhan dalam hidup kita) lalu kita ngambek, menjauh dan tidak mau percaya lagi pada-Nya.

Suatu hari seorang pewarta muda sekaligus pemimpin pujian yang diurapi Tuhan datang bersaksi. Masa lalu pewarta ini amburadul, semua kelakuan jelek pernah dilakukannya, hidup tidak jauh dari obat-obatan terlarang, main perempuan, menipu orang, you named it, pernah dilakukannya. Sampai satu ketika seorang pekerja sosial menemukan dia di rehabilitasi pecandu obat, dan ternyata dia mempunyai suara yang bagus. Dengan bimbingan pekerja sosial itu dia bertobat, mau kembali ke jalan yang ditunjukkan Tuhan baginya. Setelah keluar dari rehabilitasi, mulailah pewarta ini melayani sebagai pemimpin pujian. Umat dapat merasakan karismanya pada saat dia mengajak memuji dan menyembah Allah, urapan Allah begitu terasa saat dia ajak kami masuk ke penyembahan. Pada akhirnya, pewarta ini sungguh dipakai Tuhan untuk memulihkan hubungan orang-orang kepada Tuhan.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-247 ini, marilah kita hidup sesuai dengan rencana Tuhan. Mari kita ikut jalan yang telah ditunjukkan-Nya, karena Dia adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan hidup kita ini untuk melayani Tuhan. Marilah kita lakukan apa yang Tuhan minta kita lakukan sebelum waktunya menjadi terlambat dan hanya tinggal penyesalan yang tak berguna. Mari kita bersama-sama melayani Tuhan dengan talenta-talenta yang Tuhan telah berikan.

%d bloggers like this: