Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-310 dari 365 halaman dalam tahun.

 

“…apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu.” (Lukas 14:13-14)

 

Beberapa belas tahun yang lalu saat nenek saya, sebut saja namanya Nessa, masih hidup, biasanya tiap kali ia berulang tahun selalu dirayakan dengan mengundang teman-teman gereja atau para saudaranya. Walau setelah sekian lama begitu, semenjak Nessa ikut persekutuan doa di kotanya, saat mendekati hari ulang tahunnya, Nessa tiba-tiba mengatakan tak mau merayakannya lagi. Katanya dia akan menghubungi suster kenalan dia di panti asuhan, dan ia ingin mentraktir anak-anak di sana, dan diatas itu juga akan memberikan extra sumbangan. Permintaan Nesa terdengar aneh buat kami, karena kami semua belom ada yang ikut persekutan doa pada saat itu.

Tak lama kami mendengar kabar dari suster panti asuhan tersebut, ternyata pemanas air di panti itu rusak, dan mereka tak ada dana. Akhirnya suster kepala meminta anak-anak untuk doa bersama-sama pada Tuhan Yesus. Bukan kebetulan bertepatan dengan saat Nessa ingin menyumbang.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-310, orang miskin dan anak-anak panti asuhan adalah sebagian dari mereka yang tersingkirkan. Saya pernah mendengar 70% anak-anak di panti sebenarnya bukan karena kedua orang tuanya telah meninggal, tapi karena mereka tak diinginkan oleh orang tua mereka sendiri.

Mereka jarang mengalami kebahagiaan. Sehingga begitu mendapat berkat sedikit saja, bahagianya terasa berkali-kali lipat. Sebaliknya, untuk orang-orang yang mampu, mungkin karena sudah terlalu sering, maka hadiah/pesta semewah apapun mungkin sudah tidak terasa istimewa lagi. Uluran tangan kita akan dapat memberikan kebahagiaan di dalam hidup saudara-saudara kita yang kurang mampu.

%d bloggers like this: