Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-320 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak. (2 Yohanes 1:9)

 

Bacaan hari ini mengingatkan saya tentang kejadian tahun 1999. Waktu itu banyak orang Kristiani panik karena berpikiran kalau akhir zaman akan terjadi di tahun 2000. Banyak seminar akhir zaman yang diadakan berbagai macam gereja. Banyak ramalan dan perhitungan yang sangat akurat (menurut si peramal) yang menyimpulkan kiamat akan terjadi di hari, jam dan detik tertentu. Banyak orang stress dan panik, ada yang menyumbangkan hartanya karena ia merasa akan mati tahun depan, syukurnya juga ada orang-orang yang bertobat karena ketakutan masuk neraka. Nampaknya 18 tahun kemudian kiamatpun tidak kunjung datang…

Mungkin anda pernah mendengar teori-teori akhir zaman, bagaimana kiamat itu akan terjadi. Ada yang bilang bakal terdengar suara terompet di angkasa dan malaikat berterbangan (mengutib kitab Wahyu). Ada juga yang bilang orang-orang suci yang hidup dan mati akan diangkat ke surga dulu dimana kita bisa melihat orang-orang sekitar kita menghilang (rapture). Ada yang bilang kalau seluruh dunia bakal menjadi Kristen dulu sebelum kiamat terjadi. Tahukah Anda kalau banyak kepercayaan dan teori-teori berbeda ini berasal dari gereja non-Katolik? Bahkan film-film terkenal tentang akhir jaman juga didasari kepercayaan aliran-aliran tertentu. Menariknya, gereja non-Katolik pun tidak saling setuju satu sama lain dan ada setidaknya tiga teori utama tentang akhir zaman yang menyebabkan perdebatan sengit.

Syukurnya Gereja Katolik punya pendapat yang satu dan kuat supaya kita tidak bingung. Saya juga teringat kalau romo-romo di Indonesia dulu tenang-tenang saja menanggapi kepanikan akhir zaman. Ini menunjukkan kesatuan Gereja dan arah yang jelas.

Pertama, kita percaya kalau penggambaran akhir zaman di kitab Wahyu itu simbolis dan tidak mencoba mencari tanda-tanda seperti digambarkan kitab Wahyu. Artinya, kita sepantasnya tidak panik kalau melihat awan di langit yang sekilas tampak mirip malaikat, atau ada suara yang sepertinya kayak suara terompet dan lantas berasumsi kalau dunia sedang kiamat.

Kedua, kita percaya kalau Kristus akan datang kembali, tapi tentang kapan dan bagaimana hanya Tuhan yang tahu (Matius 24:26). Jumlah tahun yang ditulis juga hendaknya jangan dibaca secara ‘letterlek’, seperti ditulis Santo Petrus bahwa ‘di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari.’

Ketiga, menurut Magisterium Gereja, Kristus sudah hadir dan memerintah melalui Gereja, tapi seluruh dunia belum ditaklukkan kepadaNya karena iblis masih mencoba mempengaruhi manusia untuk jatuh dalam kebinasaan. Artinya di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-320 ini hendaknya kita umat Katolik selalu waspada dan tetap tinggal di dalam perintahNya selama kita hidup, supaya kalau saat akhir zaman tiba kita bisa datang kepadaNya tanpa noda dosa. Jangan hanya tenang-tenang hidup enak dalam dosa dan kemudian panik di saat-saat terakhir.