Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-53 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. (Matius 16:19)

 

Hari ini Gereja merayakan pesta Takhta Santo Petrus. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai Saint Peter’s Chair. Kursi yang ia miliki tentunya begitu spesial sehingga kita rayakan setiap tahunnya.

Kursi merujuk kepada sebuah jabatan, yaitu sebagai pemegang kunci Kerajaan Sorga, kepala Gereja Allah di bumi, wakil Kristus sendiri. Sebagai pemegang kunci, Santo Petrus mempunyai kuasa untuk membuka atau menutup, mengikat atau melepaskan. Jabatan ini tidak berhenti pada Santo Petrus sendiri, selaku Uskup Roma pertama, melainkan diteruskan turun-temurun – sampai kepada Sri Paus Fransiskus hari ini. Dengan kuasa yang sama, para pastor selaku pembantu Uskup melepaskan kita dari dosa-dosa yang kita akukan dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Dengan menyangkal diri, memanggul salib dan mengikut Yesus, kita sesungguhnya adalah satu kawanan domba dengan Yesus sebagai Gembala Agung, dan Santo Petrus beserta penerusnya adalah wakil Yesus di bumi. Mereka memperoleh otoritas dari Yesus sendiri untuk memimpin dan menjadi gembala atas kita umat-Nya.

Kita boleh berbangga bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang sama yang Yesus dirikan sekitar 2000 tahun yang lalu, alam maut tidak akan menguasainya. Sampai hari ini 266 orang Sri Paus telah menjaga takhta wakil Kristus. Setiap dari mereka tetaplah manusia yang lemah dan berdosa, namun mereka menggembalakan umat Allah dengan bersandar pada Yesus – seperti Santo Petrus dapat berjalan di atas air karena percaya dan hidupnya terpusat pada Yesus.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-53 ini, mari kita jaga dan pelihara bersama Gereja Tuhan, dan kita doakan para pemimpin Gereja; termasuk pula para awam yang berkarya dalam pelayanan di kebun anggur Tuhan. Dan kalau Tuhan memanggil kita, marilah kita jawab dengan turut berkarya dalam kehidupan menggereja.