Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-88 dari 365 halaman tahun 2019.

 

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.” (Markus 12:33)

 

Suatu waktu komunitas saya mengadakan acara rohani. Karena cukup rumit, tim yang mengurusi acara cukup banyak. Sebelum acara mulai, tiba-tiba terlihat seorang teman saya berlari keluar gedung sambil menangis, seorang teman lain tampak melotot di belakangnya dan terdengar ngomel. Ternyata teman saya berbuat salah yang membuat banyak teman yang lain jengkel, akibatnya ada ketegangan. Syukur saat evaluasi acara beberapa minggu kemudian mereka bisa berdamai kembali.

Skenario di atas mungkin mirip dengan pengalaman kita yang terlibat di Gereja atau kelompok rohani. Saat melakukan kegiatan rohani, tentunya kita berfokus untuk memuliakan Tuhan dan menyenangkan hati-Nya. Tapi tidak jarang ada kesalahan atau perbedaan pendapat yang terjadi. Saya rasa godaan terbesar bagi kita di situasi-situasi demikian adalah untuk berfokus pada siapa yang benar dan siapa yang salah. Akibatnya kita saling menyakiti dan tidak jarang saya lihat orang sampai keluar dari Gereja atau komunitas karena masalah-masalah kecil dan kesalahpahaman.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-88 ini kita diingatkan meskipun membawa korban (pelayanan) bagi Tuhan itu penting, melakukannya dengan kasih terhadap Tuhan dan sesama itu lebih penting lagi. Tidak mustahil untuk melakukan pelayanan dengan hati penuh kebencian, amarah, perseteruan. Tapi ini bukanlah pelayanan yang Tuhan inginkan dari kita. Pertanyaan Yesus baik sekali untuk direnungkan kalau kita menghadapi momen-momen seperti ini, ‘Hukum manakah yang paling utama?’