Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-353 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

Keduanya hidup benar di hadapan Allah, dan hidup menurut segala perintah serta ketetapan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul, dan keduanya telah lanjut usia. (Lukas 1:6-7)

 

Perikop injil Lukas kali ini menyatakan mujizat terjadi bagi pasangan Zakharia dan Elisabet yang hidupnya benar, setia kepada Allah dan selalu menaruh harapan pada-Nya karena mereka percaya tidak ada hal yang mustahil bagi Allah.

Pengalaman rohani seorang beriman umumnya seperti pasangan Zakharia-Elisabet ini. Ada saatnya seseorang meragukan keMahaKuasaan Tuhan karena pikiran kemanusiaannya dominan.

Percaya adalah melepas keterikatan kita terhadap pikiran-pikiran kita dan menaruh harapan pada Tuhan sepenuh-penuhnya. Sebab apa yang tidak masuk akal manusia, mungkin bagi Allah.

Seorang ibu yang beriman, katakan namanya Lisa. Kehidupan ibu Lisa ini biasa-biasa saja, tetapi ia sangat berdedikasi melakukan pelayanan, beberapa keluarga di selamatkan dari perceraian karena pendampingannya, ia pengurus persekutuan doa, dan segenap hidupnya di baktikan untuk pelayanan. Suatu ketika dokter menemukan bahwa dirinya menderita sirosis stadium lanjut. Sempat ia bertanya pada Tuhan: why me Tuhan? Bukankah aku sudah melayani-Mu?

Walaupun pada akhirnya ibu Lisa meninggal karena penyakit ini, tapi dalam penderitaannya dia merasa Tuhan masih memberi mujizat padanya karena dia tidak merasa sakit berlebihan dan dia merasa bahagia menjalani pemurnian dalam hidupnya sebelum saat berjumpa dengan mempelainya dari surga.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-353 ini mengajak kita untuk percaya kepada Tuhan seperti anak kecil yang percaya sepenuhnya pada orangtuanya. Percaya yang mengatasi segala pikiran kita, dan percaya bahwa Tuhan akan memberikan mujizat-mujizat dalam kehidupan kita. Amin.