Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-37 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.” (Markus 6:3)

 

Carol, bukan sebenarnya, mengatakan kalau ia tidak mau lagi pergi ke salah satu kelompok pendalaman Kitab Suci di kotanya. Sebab sewaktu pertama kali datang ke kelompok tersebut, ternyata pengajar disitu adalah salah seorang temannya sejak SD. Jadi menurut Carol, dia sudah “tahu” segala kebiasaan si pengajar tersebut.

Kisah Carol adalah salah satu cerita yang sering saya dengar. Kisah-kisah lainnya adalah saat kita ditegur oleh anak sendiri. Mungkin yang langsung terlintas di benak kita adalah, “idiih, ini anak udah mulai kurang ajar ya. Belum aja bisa kasih makan gue,… Emang tau apa dia??!!” Kalau anak-anak merasa dirinya tak didengar, merasa tidak nyambung lagi dengan ortunya, apa yang terjadi kalau mereka merasa lebih diterima oleh teman-teman yang berandalan?

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-37, saya sering mendengar orang bilang “Don’t judge a book from its cover.” Tapi dalam kisah Carol, terus banyak tahu isi buku ternyata juga bisa mempengaruhi hati kita penuh dengan pre-judgement, sehingga sulit untuk bisa belajar hal-hal baru. Padahal belum tentu hal-hal baru tersebut 100% jelek.

Di satu sisi, buat yang sudah senior, butuh kerendahan hati untuk dapat menerima masukan dari yang lebih muda. Di sisi lainnya, buat yang lebih muda, juga harus rendah hati dan tetap respectful kepada yang lebih senior. Hanya dengan demikian kita bisa tetap menjaga persatuan, dan tetap bisa berkembang dan belajar dari satu sama lain. Sebaliknya rasa sombong, dan iri pada yg lebih muda atau lebih pintar akan membuat kita terpecah-pecah.