Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-181 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”  Matius 8:6

Sebagaimana bangsa Israel meratap saat jatuhnya Yerusalem ke tangan kerajaan Babel seperti yang ditulis oleh Nabi Yeremia dalam bacaan pertama hari ini (kitab Ratapan), demikian pula kira-kira kesedihan sang perwira di dalam bacaan Injil pagi ini.

Sebagai perwira Roma, tentu banyak orang akan cari muka dengan berusaha untuk membantu menyembuhkan hamba nya. Namun tidak ada satu pun yang berhasil. Ia concern terhadap hamba nya yang sakit sehingga akhirnya memutuskan mencari Yesus. Menariknya ia sangat menghormati dan menganggap Yesus diatas dirinya. Itu sebab nya ia happy hanya mendengar Sabda Yesus semata2. Karena SabdaNya saja sudah mampu menyembuhkan! Ini sangat luar biasa especially buat orang non Yahudi yg notabene sering disebut kafir.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-181, dalam kehidupan sehari2 ketika manusia jatuh terperosok seringkali yang dilakukan hanyalah terus menerus menyesali atau meratapi hidup. Di dalam kitab Ratapan memang lebih kepada penyesalan akan kejatuhan bangsa Israel; namun juga terbersit harapan dan penyemangatan.

Coba lihat di ayat 19, Bangunlah, mengeranglah pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam; curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di ujung-ujung jalan! Anda dan saya di ingatkan untuk tidak henti2 nya berpengharapan kpd Allah. Karena ”Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat 3:22-23) .

Mari bangkit, semangati diri mu dan jadilah seperti si Perwira, carilah Tuhan Yesus dan IMANI Sabda Nya! Tuhan memberkati