Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-43 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.” (Markus 7:9)

 

Pada suatu hari, saat Denis sedang berjalan-jalan di pasar. Tak sengaja sudut matanya menangkap ada suatu benda yang berkilau. Dengan sigap Denis lalu mengambil benda tersebut yang ternyata adalah sebuah berlian yang besar dan sangat mahal harganya.

Namun, menurut adat di negaranya, apabila ada seseorang yang menemukan benda milik orang lain yang hilang, maka orang tersebut harus berdiri di tengah2 pasar dan mengumumkan benda yang hilang tersebut 3x. Apabila tidak ada orang lain yang mengaku bahwa barang itu adalah miliknya, maka benda tersebut sah menjadi milik orang yang menemukannya.

Merasa sayang dengan berlian tsb, namun Denis, karena ia seorang warga yang baik, merasa bersalah apabila tak mengikuti adat istiadat setempat. Maka Denis menunggu sampe tengah malam, ia lalu berdiri di tengah-tengah pasar yang saat itu kosong, dan berkata setengah berbisik: “Siapa yang kehilangan berlian harap menemui saya…

Setelah 3x berbisik, ternyata temen Denis yang kebetulan disana memperhatikan gerak-gerik Denis dari awal. Ia dengan heran bertanya: “Denis ngapain loe disana!??” Denis spontan menjawab: “e-ehh, urusan gue, loe mau tau ajah. pergi sana!!!

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-43, kisah Denis (diambil dari buku Doa Sang Katak) adalah contoh nyata betapa berbahayanya apabila kita menjalankan adat, peraturan, tradisi secara harafiah, tanpa mengerti dulu tujuan dari peraturan tsb. Peraturan yang dijalankan atau dibuat secara otoriter dan tanpa “hati”, bisa merugikan sesama, bahkan (menurut bacaan hari ini) hubungan dengan Tuhan pun menjadi rusak.

Apabila suatu saat nanti salah satu dari kita mendapat kesempatan untuk membuat peraturan, cobalah bertanya, apakah peraturan tsb bisa membuat hubunganku dengan Tuhan dan sesama semakin baik? Sebaiknya peraturan yang dibuat seharusnya dapat membuat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama semakin harmonis.