Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-22 dari 365 halaman tahun 2019.

 

“di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.” (Ibrani 6:20)

 

Pekerjaan di kantor saya sangat terstruktur dan ada banyak prosedur dan peraturan yang wajib ditaati. Semua staf juga patuh dan bekerja dengan baik supaya pekerjaan mereka berjalan lancar.

Suatu hari kami dihadapkan pada situasi unik dan sulit yang membuat stress. Kami berkonsultasi dengan direktur tim yang mengusulkan suatu solusi yang baik. Tapi dengan takut kami menjawab, “tapi itu kan melanggar prosedur kita?” Dengan gampangnya ia menjawab, “peraturan mana yang kamu langgar?” Ternyata kami salah mengerti peraturan yang tertulis dan mencoba menjalankannya dengan sangat kaku.

Di bacaan Injil hari ini Yesus dihadapi situasi yang serupa dimana murid2Nya kelaparan. Nampaknya Ia melanggar peraturan menurut orang-orang Farisi yang menyebabkan mereka tidak senang dan mengkritik. Kalau kita lihat bacaan pertama, disitu dinyatakan bahwa Yesus adalah Imam Besar. Ia adalah Tuhan dan Raja atas segala peraturan hidup keagamaan. Dengan lembut, pada hari itu Yesus menyatakan kebijaksanaan dan otoritasNya kepada para orang Farisi. Yesus tahu kalau para orang Farisi salah menafsirkan perintah Allah dan menjalankannya dengan kaku dan tanpa kasih.

Di refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-22 ini kita diajak merenungkan kembali pribadi Yesus sebagai Imam Besar kita. Sebagai Imam, Ia menunjukkan bukan saja pengetahuan tentang peraturan keagamaan dan kitab suci, tetapi juga kebijaksanaan untuk melaksanakan peraturan-peraturan tersebut dengan belas kasih terhadap umatNya. Mari kita berdoa supaya kitapun beroleh sedikit kebijaksanaan Ilahi dalam menjalani hidup kita sehari-hari.