Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-330 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.” (Lukas 21:4)

 

Derbi (bukan nama sebenarnya) adalah salah satu teman yang suka datang ke persekutuan doa. Derbi yang masih kuliah, sebenarnya belum punya penghasilan yang tetap. Tetapi ketika mendengar ada teman di persekutuan yang sedang kesulitan, atau saat mengetahui persekutuan tsb membutuhkan dana untuk mengadakan retret, maka Derbi tidak segan-segan menolong sebiasanya. Sebaliknya orang-orang lain yang lebih mampu, datang dengan kendaraan bagus, justru menolak untuk membantu. Mereka malah sering berkata, persekutuan dan gereja kan sudah kaya, untuk apa dibantu lagi.

Dalam pengalaman saya pribadi, ada macam-macam motivasi orang untuk memberi sumbangan: (1) ada yang memberi sumbangan supaya dilihat orang dan biar dianggap orang baik, (2) supaya terlihat kaya, (3) supaya dihormati, atau (4) supaya dianggap tidak pelit. Bahkan yang tidak kalah populer di kalangan komunitas Gereja, mereka memberi, supaya diberi balik. Saya sendiri pernah terperangkap dengan pikiran seperti ini. Kalau memberi sumbangan 1 juta, katanya diberikan kembali berkali-kali lipat. Wah gak usah berkali-kali lipat deh, 2x lipat aja bisa dapat 2 juta, udah lumayan, bo! Nah pikiran-pikiran seperti itu yang mengaburkan motivasi orang. Saat doa mereka seakan belum terjawab, jangan heran orang itu lalu akan marah besar pada Tuhan.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-330, janda di bacaan hari ini, memberi dalam kekurangan. Ada yang mengatakan dua peser itu kira-kira Rp 8000. Walau dalam kekurangannya, ia tetap melakukan tugas dan kewajibannya. Apakah kita juga sama seperti si janda, mengasihi Tuhan dan rela memberikan apa yang ada pada kita?

Tuhan terlebih dahulu memberi kita berlimpah-limpah, sekarang tugas kita adalah memberi kembali dengan semaksimal mungkin, termasuk juga dengan membantu teman-teman yang kesulitan.