Refleksi Harian Katolik Epiphany. Halaman ke-309 dari 365 halaman dalam tahun 2018.

 

“dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:4)

 

Minggu ini saya menonton film Indonesia yang menceritakan perjuangan dua anak yang miskin untuk meraih mimpi mereka belajar di luar negeri. Mereka sekolah dan bekerja keras untuk menabung biaya belajar.

Suatu hari seorang ibu tetangga dengan sedih datang mengunjungi ibu mereka untuk meminta beras karena mereka tidak punya uang lagi untuk membeli makanan. Salah satu anak ini menyeret saudaranya, membawa celengan mereka ke toko dan membeli bahan membuat kue untuk ibu tetangga itu, supaya ibu ini punya pekerjaan dan tidak kekurangan uang lagi. Ada adegan lucu dimana mereka berkelahi karena yang satu awalnya tidak rela uang tabungannya diberi ke orang lain.

Saya diajar untuk memberi kepada orang lain serelanya, tapi kejadian seperti di film ini membuat saya bertanya-tanya apa artinya. Sering kita memberi sumbangan kolekte di gereja, memberi donasi untuk anak asuh atau memberi ke berbagai macam amal. Pernahkah kita berpikir apa motivasi kita sebenarnya dalam memberi? Di Australia ini sumbangan diatas $2 bisa mengurangi pajak, apa ini alasan kita menyumbang? Ataukah kita memberi untuk menunjukkan kebaikan kita pada orang lain? Atau mungkin karena tidak mau dianggap pelit saja? Saya rasa hanya pribadi kita masing-masing yang bisa menjawabnya.

Anak di film diatas ‘tidak rela’ memberi pada awalnya, ia sudah susah-susah bekerja dan menabung tapi semua itu diberikan pada orang lain. Tapi ini contoh sempurna penerapan ayat Filipi 2 diatas, dimana seseorang memperhatikan kepentingan orang lain dan tidak hanya kepentingan dirinya sendiri. Santa Teresa dari Kalkuta berkata ‘give, but give until it hurts.’ Mungkin pemberian terbaik adalah pemberian yang sulit kita berikan, tapi kita lakukan juga secara sadar karena kasih kita terhadap orang lain.

Refleksi harian Katolik Epiphany halaman ke-309 ini mengajak kita merenungkan kembali tentang perintah Tuhan supaya kita memberi tanpa pamrih. Apakah kita sudah menuruti perintah ini? Ataukah masih ada motivasi lain di balik pemberian kita? Mari kita berdoa supaya Tuhan memurnikan hati dan tindakan kita selalu supaya bisa menuruti perintahNya.